SOSIALISASI PENCEGAHAN VIRUS CORONA (NCOVID-19) DAN TOS TBC oleh Tim Dokter Puskesmas Duren Sawit

Pada hari Rabu, 4 Maret 2020 Tim Dokter dari Puskesmas Duren Sawit menyampaikan sosialisasi terkait isu paling hangat akhir-akhir ini.

Mereka menyebutkan kita tak perlu panik apalagi khawatir berlebihan menyikapi virus Corona ini. Kenapa ??? Berikut ulasannya.

Tingkat kematian karena CORONA hanya 3,4 % (sumber : WHO 4/3/20 ) masih jauh lebih kecil dibanding tingkat kematian karena SARS yang mencapai 14-15% apalagi karena MERS paling tinggi hingga 35%. Ibarat kata, dari 3 orang yang kena MERS, 1 diantaranya meninggal. CORONA sih tidak separah itu.

Padahal mereka virus yang satu keluarga, ibaratnya kakak adek karena mereka sama-sama menyerang sistem pernapasan.

Tapi tak bisa di pungkiri, penyebaran CORONA lebih cepat karena menular melalui droplets, cairan bersin, batuk.

Karena CORONA disebabkan virus, soo cara paling AMPUH untuk lawan itu virus adalah menjaga stamina, meningkatkan imun tubuh. Perbanyak konsumsi sayur dan buah, sering-sering cuci tangan dengan 6 gerakan dasar cuci tangan.

Sudah terbilang banyak juga kok pasien CORONA yang sembuh. Mereka sembuh karena imun tubuhnya meningkat. Karena sampai saat ini, penemuan vaksin virus COVID-19 ini masih sedang diusahakan pihak terkait.

Naah, terkait pemakaian masker.
Karena jumlahnya terbatas, maka yang sakit, batuk, flu aja wajib pake. Kita yang sehat, tidak pakai juga tidak apa kok. Jadi jangan panik ketika sobat sapta eka tidak kebagian masker waktu mau beli kemarin karena habis diborong orang.

Oh iyaa, kalo kita batuk atau bersin, harus ditutup yaa pake tisu atau sapu tangan, atau batuk atau bersin di siku bagian dalam supaya dropletsnya tidak menyebar yaa.

Topik kedua yang dibahas oleh tim sosialisasi dari Puskesmas Duren Sawit adalah tentang penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang usianya hampir jadi fosil. Sobat sapta eka tahu itu bakteri apa?

Yups.. Mycobacterium tuberculosis namanya.

Menurut data yang disampaikan dokter pada saat sosialisasi kemarin, tingkat kematian oleh TBC ini sangat tinggi. Berdasarkan data WHO di tahun 2017, Indonesia menempati urutan ketiga dengan tingkat kematian tertinggi setelah India dan Tiongkok. Setiap harinya ada 300 orang yang meninggal alias sekitar 12 orang meninggal setiap jamnya.

Nah penyakit TBC ini sudah ada obatnya. Dan pemerintah menyediakan pengobatan gratis dan berkualitas guna memastikan pasien terawat hingga sembuh total.

Gejala TBC gimana sih? Sobat sapta eka perlu tahu loh, supaya jika orang terdekat menunjukkan gejala serupa segera bawa mereka ke puskesmas untuk mendapat pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

Berikut gejala TBC di lansir dari laman alodokter.com

  • Batuk yang berlangsung lama (3 minggu atau lebih), biasanya berdahak.
  • Batuk mengeluarkan darah.
  • Berkeringat pada malam hari.
  • Penurunan berat badan.
  • Demam dan menggigil.
  • Lemas.
  • Nyeri dada saat bernapas atau batuk.
  • Tidak nafsu makan.
  • Lemas.

Kira-kira begitulah hasil sosialisasi tentang virus COVID-19 oleh dr. Ike dan sosialisasi TOS (Temukan Obati sampai Sembuh) TBC dalam rangka menggalakkan gerakan Indonesia bebas TBC 2030 oleh tim sosialisasi puskesmas Duren Sawit di SMAN 71 Jakarta pada hari Rabu, 4 Maret 2020 kemarin.
.
Tetaap tenang dan banyaak berdoa yaa sobat sapta eka. ^_^
Tetaap semangaat.

Leave Comment

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.