Liputan Siswa Peserta Seminar Bersama Nadiem Makarim

Pada hari Sabtu 28 Juli 2018, kami (Arkan, Awan, Daffa, dan Rafli) diberi kesempatan mewakili SMAN 71 Jakarta dalam seminar bersama Nadiem Makarim, kami ditemani oleh guru kami yaitu Bu Annisa. Seminar tersebut berlangsung di the residences at Dharmawangsa. Kami berangkat dari SMAN 71 sekitar pukul 11.20 WIB menggunakan taksi online, dan sampai di tempat lebih awal dari yang lain.

Acara dimulai pada pukul 13.03 WIB dibuka oleh seorang MC dan dilanjutkan dengan sharing langsung bersama kak Nadiem Makarim. Sebelum sharing beliau berpesan jangan langsung mencerna semua pendapatnya melainkan harus kritis terhadap sebuah pendapat. Beliau bermula menceritakan kisah hidupnya. Beliau dilahirkan di Singapura, dan dibesarkan di Indonesia. Beliau pernah mengenyam pendidikan di New York city, dan menjadi wisudawan dari universitas ternama dunia yaitu Harvard university. Sebelum berprofesi sebagai CEO gojek beliau bekerja berpindah- pindah perusahaan. Awal mulanya beliau merintis usaha tersebut berawal dari pengalaman beliau, setiap kali beliau menyewa ojek rasanya beliau seperti dipalak preman. Hingga akhirnya pada 7 tahun yg lalu beliau mulai merintis usahanya yang sebenernya bukan bernama “gojek” melainkan “green ojek”.

Setelah beliau berbicara mengenai sebuah kisah hidupnya beliau langsung membuka sesi Tanya jawab. Antusias audiences sangat bagus dalam acara ini. pertanyaan pertamapun mengenai keadaan pemerintah yang kurang support terhadap penemuan baru yang dilakukan anak bangsa, Beliau menjawab bahwa bukan pemerintah yang kurang support melainkan Indonesia sendiri, dan sebagai anak muda intinya jangan langsung pesimis untuk melakukan sesuatu, beliau mengatakan “people will make fun of you until you hit it. Ideas is everywhere, but valuable one is the person who act or do the ideas failure will make you comfortable. The younger you are , just take risks”. Pertanyaan keduapun mengenai legalnya “gojek”, karena kendaraan yang digunakan tidak menggunakan plat kuning, beliau menjawab bahwa sebenarnya tidak ada kendaraan umum roda dua, dan beliau juga melakukan apa – apa yang sudah dilakukan orang banyak. Kadang kalau sudah sampai titik sukses, orang bakal jatuhkan. Sesi pertanyaanpun terus berlanjut, pertanyaan selanjutnyapun mengenai banyaknya costumers “gojek” dan perbedaan gojek dengan yang lain, beliau tertawa sejenak dan mengatakan “karena efficient. It’s a big deal”. Intinya Kalau dengan uber, jelas gojek kalah dari segi teknologi. Gaji engineering uber lebih besar dari gaji CEO “gojek”. Tetapi tetap kalah karna tidak semua tentang uang. Kalau dengan grab, aplikasi tersebut sangat bagus mengcopycat uber dan gojek . namun kurang disiplin dalam hal promosi. Beliau mengambil olahraga sebagai contohnya, seorang petenis meja yang handal akan menang kalau melawan petenis meja yang biasa saja. Namun, petenis meja yang kalah akan terus belajar dari kegagalan dan menjadi pemenang. Tidak selamanya yang besar itu menang.

Antusias audiences semakin bagus beliaupun menunjuk wanita untuk bertanya, pertanyaan tersebut menngenai Indonesia, bahwa katanya Indonesia merupakan pasar besar tapi kenapa masih impor dan tindak membuat sendiri suatu produk, beliau mengambil contoh china, semua buatan china harganya murah dan kualitasnya bagus. Namun, tidak Indonesia harga jual mahal dan kualitasnya kurang bagus. Pertanyaan selanjutnya mengenai cara agar tidak terlena setelah meraih sesuatu, beliau mengatakan bahwa kelilingi hidup dengan tantangan, jangan puas dengan pujian. Intinya tidak ada sukses dalam hidup. There is no finish line. Just keep going. Setelah menjawab beliau mempersilahkan yang lain untuk bertanya, pertanyaan berikutnya yaitu “ilmu atau koneksi?”. Beliau mengatakan tidak kedua – duanya, melainkan experience yang penting, karena dengan pengalaman seseorang akan terus belajar dari apa yang dilakukan. Setelah itu teman bukan koneksi, karena pertemanan itu lebih penting daripada uang. Yang terakhir adalah ilmu. Ada juga yang bertanya mengenai pesan kak Nadiem untuk anak bangsa agar Indonesia lebih baik lagi. Beliaupun mengatakan bahwa di dunia begitu banyak gangguan, sebagai anak muda harus mengenal diri sendiri, belajarlah jujur dengan diri sendiri. Tanya sama diri kita sendiri, siapasih kita?, mau jadi apasih kita?,karena semua suara dari hati itu benar, “your voice is the great answer for your life” itulah yang beliau katakan.

Selanjutnya salah satu dari kami (yaitu, awan) diberi kesempatan untuk bertanya, yaitu mengenai berapa banyak waktu kak Nadiem gunakan untuk mendapatkan ide, dan apakah kultur dalam gojek sudah terencana atau mengalir begitu saja, beliau menjawab bahwa research sangat penting ,mempunyai teknologi yang bagus dan berusaha bukan hanya untuk uang. Pertanyaan selanjutnyapun masih dari kami (yaitu, rafli) mengenai bagaimana cara kak Nadiem sebagai CEO dalam mempengaruhi orang lain agar mau diajak bekerja sama. Beliau berkata ada 3 cara mempengaruhi orang lain, yaitu jujur jangan berbicara “semanis madu”. Kalau sama – sama butuh, kerjasam bisa dimulai kalo tidak kita harus siap mundur dalam negosiasi. Kalau suatu negosiasi dilakukan dengan keadaan tidak siap mundur, kerjasama yang dilakukan tidak akan  maksimal. Setelah itu bersabarlah dalam kerjasama dan perlihatkan keahlianmu, public speaking sangat penting dalam bekerjasama,dalam rapat jadilah dirimu sendiri dan orang lain akan ikut bermimipi sesuai dengan apa yang kamu impikan, karena itu penting dalam sebuah kerjasama. Selanjutnya, mengenai bagaimana caranya agar dapat masuk universitas top dunia, beliau berkata untuk masuk sebuah universitas dibutuhkan sebuah keahlian dalam menulis dan berbicara. Pertanyaan terakhir yaitu bagaimana cara agar orang tau mengetahui mimpi atau cita – cita anaknya, beliau menjawab “You can’t. not letting yhe child follow their instincts will make it worse. The decision is the kids decision”. Setelah pertanyaan tersebut MC mempersilahkan kita untuk berdiri dan memberi tepuk tangan untuk kak Nadiem Makarim.

Selanjutnya kami dipersilahkan untuk foto bersama kak Nadiem Makarim, foto dibagi dua sesi karena ruang tidak cukup untuk foto bersama. Setelah itu kami kembali menuju SMAN 71 sekitar pukul 15.20 wib, dan sampai di SMA 71 pukul 16.00 wib.

Penulis :

1. Arkandithya Naufal

2. Muhammad Daffa

3. Muhammad Rafli



Spread the word. Share this post!

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *